Tantangan Berkeluarga

Beberapa pekan yang lalu seorang ukhtiy curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Dia mengeluhkan betapa repot dan lelahnya ketika menjadi seorang ibu. Mengurus si kecil, harus memasak, bersih2 rumah, mencuci, setrika….Gak selesai-selesai. Dia merasa sangat kelelahan ketika harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari di rumah kostnya yang mungil. Akhirnya beberapa kali, si kecil tidak mendapat asupan ASI karena si ibu lebih memilih urusan rumah tangganya dan memberinya susu botol. Lebih-lebih ketika ia meminta bantuan kepada pihak ketiga, dalam hal ini orang tua.

Menarik untuk dicermati, bahwa setiap perempuan muda yang sudah menikah, pasti akan melewati tahapan ini. tahapan kerepotan yang luar biasa karena ketambahan amanah besar berupa seorang anak. Aku pun dulu seperti itu. Tapi alhamdulillah, dengan selalu berkomunikasi dengan suami, kami bisa menyelesaikannya.

Beberapa hal terkait masalah ini yang bisa kita ambil hikmahnya adalah :

1. Kita kembalikan niat awal menikah. Dulu ketika menikah, tidak ada yang memaksa saya untuk menikah dengan siapa dan kapan. Semua keputusan ada di tangan saya. Orang tua hanya melihat calon suami dan kesungguhan saya. Niat saya menikah untuk membentuk keluarga Islami sabagai bagian dari pembentukan masayrakat islami. Dan anak yang menghiasai kehidupan saya nanti adalah amanah Allah yang harus saya ciptakan menjadi generasi Robbani. Dari sini, saya berkeyakinan,  apapun yang terjadi, resiko dan tntangan yang akan saya hadapi ketika sudah menikah kelak, adalah pilihan saya. saya  tidak berhak untuk mengeluh ataupun protes kepada keluarga besar saya.

Saat-saat kelelahan, uang belanja habis, makan seadanya, sakit….semua saya yakini sebagai ujian menuju visi keluarga saya. Selama kami masih berada di jalur yang benar, Selama kami masih berada di jalan dakwah.Dan masa-masa sulit tersebut akan menjadi kenangan yang indah bagi kami.

InsyaAllah jika niat kita menikah lurus, semua masalah akan men jadi lebih mudah. Karena ada Allah yang menjadi sandaran hidup. Lain lagi ceritanya jika kita menikah hanya karena mengikuti perputaran nasib. lahir, anak-anak, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, punya cucu…mati…

2. Jika hidup ibarat samudra, maka ketika menikah, kita telah memulai perjalanan mengarungi samudera di sebuah kapal yang bernama pernikahan. Kapal itu ada kita, pasangan, dan anak2 kita. Ketika akad nikah telah diikrarkan, maka sauh sudah kita lepas, dan kapal siap berlayar.

samudera yang akan kita hadapi amatlah luas dan tidak tahu dimana tepinya. banyak ombak yang akan menghadang. baik berupa riak kecil ataupun badai. Yang jelas kapal ini tidak boleh karam. Kapal ini harus terus berlayar sampai Allah menentukan ujung buat kita. Dan kita membutuhkan ilmu untuk melewatinya.  Membutuhkan ilmu, kesabaran, kerjasama dengan partner (suami/istri kita), ketangguhan fisik dan mental, dan tentu saja doa.

Kerjasama dengan pasangan mutlak diperlukan. Dan komunikasi kuncinya. Tidak ada super ordinat dan sub ordinat diantara suami istri. semuanya saling memberi. Ibaratnya, suami presiden direktur, istri adalah CEO.Masalah seberat apapun komunikasikan dengan suami. tentu saja diperlukan teknik2 komunikasi yang efektif dan menyenangkan. tidak sekedar syuro keluarga.

Ala kulli hal, apa yang ku tulis di atas buka berarti keluargaku yang terbaik. Kami masih belajar dan sempat tertatih-tatih…terjatuh lagi…bangkit lagi…

Yang paling penting, kunci dari semuanya adalah kedekatan kita dengan Allah. semakin kita jauh dari Allah, semakin rumit dan sempit hati kita dalam menghadapi tantangan apapun, bahkan tantangan sebesar kerikil.

Selalu ciptakan iklim keluarga yang selalu rindu kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s