Usaha NII berkedok peduli fakir miskin

Sering kali kita temukan tulisan – tulisan tersebut yang menempel dikardus kosong atau mendengar dari seorang relawan yang menyodorkan amplop maupun kwintansi dari berbagai tempat. Seperti pinggiran toko, pasar tradisional, tempat parkiran, ATM, Masjid, bus antar kota, PJ alias warung tenda pinggir jalan, dan perempatan lampu merah. Bahkan terminal, stasiun dan bandara, tidak berhenti sampai disitu saja, melaikan pasar swalayan yang ramai dengan pengunjung menjadi incaran mereka. Seperti : Carefour, giant, ITC, PGC, Margo City, Detos, Menteng Plaza, Mangga Dua, Cempaka Mas, dll.

“Ada Gula Ada Semut” peribahasa ini sangat cocok untuk relawan yatim piatu, dimana ada orang disitulah mereka berpijak. Cara kerja mereka tidak mengenal lelah, bahkan tukang becak pun bisa kalah. Semangat mereka semangat pejuang 45, laksana prajurit perang yang siap tempur, tak gentar dengan rintangan walau halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban fikiran.

Tatkala pagi menjelang mereka siap dengan pakaian dinasnya, kepasar – pasat tradisional maupun dor to dor, siang hari pindah lokasi pasar – pasar swalayan, ATM atau Pom Bensin, sore harinya terminal, stasiun atau bandara, dan alam harinya PJ PJ alias warung tenda pinggir jalan. Setiap hari cara kerja mereka sama, dari satu lokasi pindah kelokasi yang lain. Bahkan PSK [Pekerja Sex Komersial – red] yang mangkal satu tempat, mereka berpindah – pindah tempat dalam satu hari dan setiap waktu. Dari hari senin – minggu jadwal mereka berbeda dab sangat padat layaknya birokonsultan yang kebanjiran orderan.

Cara penampilan mereka baik rijal ( laki laki ) maupun Nissa ( perempuan ) sangat rapi, modis dan jeli dalam diplomasi. Bak marketing yang menawarkan jasa jasa produk. Bagi nissa yang remaja mereka berpakaian ala karyawan memakai celan, terkadang rok, celana bahan dan baju kemeja, sementara yang dewasa atau para Ibu, baju muslimah masa kini yang tidak terlalu panjang tanpa kancing depan motif bunga bunga, kerudungnya sama katun paris yang didesain sedemikian rupa, dan bagi dewasa khusus rijal memakai celana bahan , tanpa jenggot dan tak berkopyah/ peci, rambut selalu rapi.

Mereka juga menghindari dari incaran SP ( Satpam ). Bagi mereka Satpam adalah kuman kuman yang mengotori perjalanan mereka karena Satpam selau menghalangi aktifitas mereka, bagi kalangan relawan NII sering menyebutnya dengan istilah SP.

Untuk penempatan lokasi antara rijal dan nisa pun berbeda, para rijal baik remaja maupun dewasa lebih suka ditempat yang terbuka seperti perempatan lampu merah,shelter Busway, bus antar kota, ATM, masjid, pom bensin SPBU, pinggiran toko, warung tenda, pasar tradional dari pintu ke pintu, semua ini dilakukan untuk menghindari satpam, yang menurut mereka kasar dan kejam, sementara yang nisa ditempatkan di pasar – pasar swalayan, stasiun dan bandara. Dimana tempat ini sangat riskan dengan satpam, namun bila mereka [nisa] tertangkap satpam, mereka akan mudah dilepaskan. maka bagi pemula yang baru belajar biasanya ditempat – tempat yang jauh dari ancaman bahaya [satpam – red].

taken from : nii-crisis-center.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s