belajar menjadi orang tua dari para orang tua

Bagi sebagian orang, menjadi orang tua cukup mudah. Menikah, Hamil, lalu punya anak…sudah deh jadi orang tua. tapi orang tua yang seperti apa dan bagaimana kadangkala tidak terpikir di awal menikah.

Yang penting nikah dulu…urusan punya anak, itu nanti. itu sedikit gambaran pemikiran  dari pemuda-pemudi yang usianya memasuki  usia “wajib menikah”. bahkan tak jarang pula yang usianya masih belia berangan-angan menikah karena menurutnya menikah itu menyenangkan.

yup! tidak salah sih. menikah itu memang menyenangkan kalau kita mampu memaknainya lebih dalam. Bukan sekedar bisa bergandengan tangan, jalan-jalan, dan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan pasangan.

Sah-sah saja berpikiran seperti itu. Toh juga di negeri ini tidak ada yang namanya sekolah atau kursus bagaimana menjadi orang tua. semua dianggap mengalir begitu saja. Mungkin aku dulu pernah sempat berpikiran begitu. Yang penting senang-senang….dan aku memang bersenang-senang. hehehe…..

tapi untunglah Allah menyelamatkanku dengan menceburkan diriku di dunia pendidikan. dunia yang dipenuhi berbagai aspek tentang orang tua dan pengasuhannya. Sedikit demi sedikit aku belajar bagaimana menjadi orang tua melalui rajin membaca buku pengasuhan anak.

 selain dari itu, aku juga belajar memahami menjadi orang tua melalui sarana komunikasi dengan para wali murid. dari mereka aku belajar banyak hal tentang tipe-tipe pengasuhan dan berusaha mengambil hal positifnya.

Ada orang tua yang begitu komitmen menanamkan pembiasaan sholat dan hafalan Al Qur’an. Setiap hari konsisten mengajak putra putrinya untuk tahfidz dirumah. Hasilnya? Luar biasa…Hafalan qurannya mendahului teman-teman seusianya. Sholatnya pun tidak pernah bolong..

Ada pula orang tua yang lebih mementingkan materi kepada anaknya ketimbang kedekatan emosional. bekerja tanpa pernah lelah tapi giliran waktu di rumah lelahnya luar biasa. Akibatnya ada sesuatu yang hilang dari si anak. jiwanya menjadi gersang dan emosinya tidak stabil. tapi untunglah, kami di kelas bisa menjadi membangun kedekatan hati dengannya. Dan alhamdulillah…Allah menunjukkan kasih sayangnya, si anak menjadi lebih terkontrol emosinya dan prestasinya pun tidak mengecewakan.

Ada orang tua yang disiplin dalam mengatur waktu dan menanamkan kesederhanaan pada putranya. Alhasil, si anak tumbuh menjadi anak yang cerdas secara akademis dan rendah hati.

Subhanallah…banyak sekali yang saya dapat dari mengenal siswa-siswaku. Aku bertekad untuk mencontoh cara-cara pengasuhan yang baik dan tentu saja menagguhkan cara-cara yang kurang baik.

Tentu saja, setiap hari aku harus terus belajar. Terus belajar menjadi orang tua cerdas. Dari setiap orang tua. Dari setiap hikmah pengasuhan.Karena dunia anakku ke depan berbeda tantangannya dengan duniaku saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s